Paradoks AI dalam Pendidikan: Antara Efisiensi dan Jebakan Tuntutan Administrasi Guru

 

Paradoks AI dalam Pendidikan: Antara Efisiensi dan Jebakan Tuntutan Administrasi Guru

Penulis: Ariyadi | Kategori: Edukasi & Teknologi Waktu Baca: 5 Menit

Paradoks AI dalam Pendidikan: Antara Efisiensi dan Jebakan Tuntutan Administrasi Guru

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, tetapi layar laptop Bapak/Ibu Guru mungkin masih menyala terang. Di layar tersebut, bukan materi pelajaran esok hari yang terpampang, melainkan deretan kolom administrasi: laporan kinerja di PMM (Platform Merdeka Mengajar), rancangan modul ajar, hingga bukti dukung E-Kinerja yang harus segera diunggah.

Terdengar familiar? Anda tidak sendirian.

Di era digital ini, narasi tentang Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan digembar-gemborkan sebagai "dewa penolong". Tools canggih seperti ChatGPT, Gemini, hingga fitur Magic Write di Canva dijanjikan mampu memangkas waktu kerja guru dari berjam-jam menjadi hitungan menit.

Teorinya, dengan bantuan AI, administrasi guru seharusnya selesai secepat kilat. Guru seharusnya punya lebih banyak waktu untuk fokus kembali ke khittah-nya: mendidik siswa di kelas.

Namun, kenyataan di lapangan sering kali berbeda. Muncul sebuah paradoks AI yang membingungkan. Alih-alih merasa lega dan memiliki banyak waktu luang, mengapa banyak guru justru merasa tuntutan kerja semakin "menggila" dan standar administrasi makin ditinggikan?

Artikel ini akan membedah fenomena tersebut: apakah AI benar-benar membebaskan guru dari belenggu administrasi, atau justru menciptakan standar beban kerja baru yang tak kasat mata?

Paradoks AI dalam Pendidikan: Antara Efisiensi dan Jebakan Tuntutan Administrasi Guru

Realita Beban Administrasi Guru di Era Kurikulum Merdeka

Sebelum kita menyalahkan atau memuja teknologi, mari kita jujur melihat kondisi lapangan pendidikan kita saat ini. Transisi ke paradigma pendidikan baru membawa semangat perubahan yang positif, namun kompleksitas tugas administratif yang menyertainya sering kali membuat guru kewalahan.

Guru masa kini tidak hanya dituntut cakap mengajar di depan kelas, tetapi juga harus menjadi "konseptor" dan "administrator" yang detail. Daftar kewajiban itu kini terdengar sangat teknis dan menuntut kedalaman berpikir:

  1. Menyusun Modul Ajar Pembelajaran Mendalam: Bukan sekadar RPP/Modul Ajar satu lembar, melainkan merancang skenario pembelajaran yang menstimulus critical thinking dan kompetensi 6C siswa atau 8 DPL di Indonesia

  2. Melakukan Asesmen yang Komprehensif: Guru harus berjibaku dengan instrumen Assessment as learning (refleksi), for learning (perbaikan), dan of learning (sumatif) secara berkelanjutan.

  3. Mengisi Laporan Kinerja: Kewajiban administrasi kepegawaian (E-Kinerja) yang harus sinkron dengan rapor pendidikan dan bukti dukung yang valid.

  4. Tugas Tambahan Non-Akademis: Belum lagi peran ganda sebagai wali kelas yang mengurusi masalah personal siswa, hingga menjadi panitia berbagai kegiatan sekolah.

Di tengah tumpukan tugas "tingkat dewa" inilah, AI hadir menawarkan jalan pintas. Namun, apakah jalan pintas itu aman?


Membedah Paradoks AI: Ketika Efisiensi Justru Melahirkan Tuntutan Baru

Secara teori, AI hadir untuk memangkas waktu kerja. Logikanya sederhana: jika membuat satu Modul Ajar manual butuh 2 jam, dan dengan AI hanya butuh 15 menit, maka guru punya sisa waktu 1 jam 45 menit untuk istirahat, bukan?

Sayangnya, logika birokrasi sering kali tidak berjalan seindah itu. Inilah yang disebut Paradoks Efisiensi.

Paradoks AI dalam Pendidikan: Antara Efisiensi dan Jebakan Tuntutan Administrasi Guru

1. Fenomena "Karena Cepat, Maka Harus Lebih Banyak"

Masalah utama bukan pada teknologinya, melainkan pada respons sistem terhadap efisiensi tersebut. Ketika pemangku kebijakan mengetahui bahwa guru menggunakan alat bantu AI, ekspektasi standar kerja sering kali ikut terdongkrak.

Narasi yang muncul sering kali: "Karena Bapak/Ibu sudah pakai AI dan kerjanya cepat, tolong buatkan variasi modul untuk 3 gaya belajar yang berbeda, ya."

Akibatnya, waktu yang "dihemat" oleh AI segera "diisi ulang" dengan tuntutan kuantitas yang lebih tinggi. Guru kembali terjebak dalam siklus kesibukan yang sama, hanya saja dengan output dokumen yang menumpuk lebih tinggi.

2. Beban Kognitif Baru: Seni Meracik "Prompt"

Kita sering lupa bahwa menggunakan AI pun butuh keahlian. Menyusun Modul Ajar Pembelajaran Mendalam tidak bisa dilakukan hanya dengan perintah satu baris: "Buatkan saya RPP". Hasilnya pasti dangkal dan tidak kontekstual.

Guru kini memiliki beban kognitif baru, yaitu belajar menjadi Prompt Engineer. Guru harus berpikir keras menyusun instruksi spesifik agar AI memahami konteks budaya sekolah dan kebutuhan siswa inklusi. Bagi guru senior, keharusan mempelajari algoritma mesin ini menjadi sumber technostress tersendiri.

3. Jebakan Administrasi "Kosong" (Empty Calorie Content)

Bahaya terbesar dari paradoks ini adalah terciptanya tumpukan administrasi yang "sempurna secara format, namun kosong secara makna".

AI sangat pandai merangkai kata-kata indah untuk pengisian narasi rapor atau refleksi PMM. Namun, jika guru hanya sekadar copy-paste tanpa proses refleksi nyata, dokumen tersebut kehilangan jiwanya.

Pada akhirnya, guru menghabiskan waktu berjam-jam bukan untuk menciptakan konten, melainkan untuk memverifikasi dan mengedit halusinasi AI agar sesuai dengan realita kelas.

Paradoks AI dalam Pendidikan: Antara Efisiensi dan Jebakan Tuntutan Administrasi Guru


Strategi "Waras" Menggunakan AI: Jadikan Co-Pilot, Bukan Majikan

Lantas, apakah guru harus berhenti menggunakan AI? Tentu tidak. Menolak teknologi di era ini sama saja dengan berjalan mundur. Kuncinya ada pada perubahan pola pikir.

Berikut adalah tiga langkah taktis agar AI benar-benar meringankan beban, bukan menambah masalah:

1. Prinsip Human in the Loop

Jangan pernah membiarkan AI bekerja sendirian. Gunakan aturan 80/20: Biarkan AI mengerjakan 80% pekerjaan teknis (mencari ide, membuat kerangka, merapikan tata bahasa), tetapi 20% sisanya—yaitu sentuhan emosional dan validasi data—harus disentuh oleh tangan guru.

2. AI untuk Drafting, Guru untuk Finishing

Jebakan terbesar adalah menganggap hasil generate AI sebagai produk final. Anggap teks dari ChatGPT hanyalah draf kasar. Fungsi utama AI adalah mengatasi writer's block (kebuntuan ide). Setelah ide muncul, ambil alih kemudi dan tulis ulang dengan gaya bahasa Anda sendiri.

3. Tetapkan Batasan Kualitas

Jika tuntutan administrasi meninggi karena AI, beranilah berargumen dengan kualitas. Satu Modul Ajar yang benar-benar mendalam dan terimplementasi dengan baik jauh lebih berharga daripada sepuluh dokumen administrasi yang hanya berakhir di tumpukan arsip digital.

Kesimpulan

Paradoks AI dalam dunia pendidikan adalah tantangan nyata. Di satu sisi ia menawarkan kecepatan, di sisi lain ia membawa risiko tuntutan administrasi yang makin tak masuk akal.

Namun, pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Jangan sampai kita sibuk "memberi makan" sistem administrasi dengan bantuan robot, sementara siswa di depan mata kita kelaparan akan sentuhan personal dan keteladanan gurunya.

Gunakan AI untuk membebaskan waktu Anda, lalu gunakan waktu yang terbebas itu untuk kembali menyapa murid, mendengarkan cerita mereka, dan menjadi manusia seutuhnya di dalam kelas. Karena secanggih apa pun AI, ia tidak akan pernah bisa menggantikan hati seorang guru.


Bagaimana Pendapat Anda?

Apakah Bapak/Ibu Guru merasakan hal yang sama? Apakah AI sudah menjadi "teman" atau justru menambah beban baru di sekolah Anda?

Mari berdiskusi! Tuliskan pengalaman dan keluh kesah Anda di kolom komentar di bawah ini. Jangan lupa bagikan artikel ini ke rekan sejawat atau grup WhatsApp sekolah agar kita bisa saling menguatkan.



No comments

Powered by Blogger.